KECURANGAN
BISNIS PEMBAJAKAN
Pembajakan
merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai macam aktifitas
ilegal atau pemalsuan yang berkaitan dengan dunia bisnis.
Alasan
seseorang melakukan pembajakan :
Ø Harga
dapat dijual jauh lebih murah di bandingkan aslinya
Ø Dampak
penyebaran dan perkembangan teknologi yang sangat pesat di dunia
Ø Resiko
bisnis sangat rendah karena menjanjikan biaya produksi dan overhead yang sangat
murah
Ø Memiliki
pasar potensial yang sangat besar
Contoh kasus pembajakan
: SOFTWARE
Pembajakan perangkat lunak (SOFTWARE)
adalah penyalinan atau distribusi perangkat lunak secara ilegal atau tidak sah.
[1] Biasanya sebuah program atau aplikasi hanya memberikan izin untuk satu
pengguna dan satu komputer saja. Dengan membeli perangkat lunak, seseorang
menjadi pengguna berlisensi atau berizin dan bukan pemilik. Jadi, jika
seseorang menyalin dan dan memperbanyak perangkat lunak tersebut, itu disebut
sebagai pembajakan perangkat lunak
Contoh kasus:
Pembajakan
software mengindikasikan sedikitnya ada 17 orang, termasuk staf dari
Microsoft Corp. dan dua orang Eropa, yang diduga melanggar copyright terhadap
lebih dari 5.000 software komputer. Dua belas di antaranya merupakan anggota
kelompok yang menamakan dirinya pirates with attitude (PWA). Kelompok ini,
merupakan jaringan pembajakan software yang dicari-cari pemerintah Amerika
tahun lalu. Web site mereka diidentifikasi oleh pengadilan sebagai sentinel
atau warez, yang berlokasi di sebuah komputer yang disimpan di University of
Sherbrooke di Quebec. Dan semua software yang disediakan di komputer ini diberi
copy protection oleh para anggotanya. Semua program (sistem operasi, program
aplikasi seperti pengolah kata dan analisis data, game, serta file musik MP3
disediakan untuk di-download melalui akses khusus yang dirahasiakan.
Sementara
empat staf dari Santa Clara, basis Intel di California, memberikan sejumlah
hard disk berkapasitas besar ke situs ini di Kanada pada tahun 1998. Atas
perlakuan ini, mereka dan staf Intel lainnya yang ikut memberikan akses ke
software bajakan, 15 di antaranya sudah ditahan. Beberapa staf Microsoft Corp.
di Redmond, Washington juga diduga kuat menyelundupkan sejumlah software kepada
situs sentinel atau warez ini. Caranya, PWA diberikan akses ke jaringan
internal Microsoft. Jika terbukti, para tersangka harus mendekam lima tahun di
penjara dan diharuskan membayar denda US$250.000, atau diharuskan membayar dua
kali lipat dari kerugian perusahaan, yang berarti jauh lebih besar
Ada banyak faktor-faktor yang mendukung terjadinya pembajakan software. Software adalah produk digital yang dengan mudah dapat digandakan tanpa mengurangi kualitas produknya, sehingga produk hasil bajakan akan berfungsi sama seperti software yang asli.
Selain itu, tidak disangkal lagi, satu hal yang mendukung maraknya pembajakan atas software adalah mahalnya harga lisensi software yang asli. Untuk perbandingan, harga lisensi Windows 98 adalah 200 dolar AS, sedangkan software bajakan dapat kita beli hanya dengan harga Rp. 10.000 saja. Andaikata di sebuah kantor mempunyai 20 buah komputer yang menggunakan windows 98, maka biaya yang harus dikeluarkan sebesar 4000 dolar AS atau senilai hampir 40 juta rupiah. Itu hanya untuk sistem operasinya saja, belum termasuk program-program aplikasi lainnya.
Ada banyak faktor-faktor yang mendukung terjadinya pembajakan software. Software adalah produk digital yang dengan mudah dapat digandakan tanpa mengurangi kualitas produknya, sehingga produk hasil bajakan akan berfungsi sama seperti software yang asli.
Selain itu, tidak disangkal lagi, satu hal yang mendukung maraknya pembajakan atas software adalah mahalnya harga lisensi software yang asli. Untuk perbandingan, harga lisensi Windows 98 adalah 200 dolar AS, sedangkan software bajakan dapat kita beli hanya dengan harga Rp. 10.000 saja. Andaikata di sebuah kantor mempunyai 20 buah komputer yang menggunakan windows 98, maka biaya yang harus dikeluarkan sebesar 4000 dolar AS atau senilai hampir 40 juta rupiah. Itu hanya untuk sistem operasinya saja, belum termasuk program-program aplikasi lainnya.
Beberapa bentuk
strategi anti pembajakan
Strategi
anti pembajakan :
1.
Warning Strategy
Perusahaan
pemegang merek asli memberikan peringatan secara aktif kepada para
konsumennya terhadap produk perusahaan tersebut yang dipalsukan.
Contoh kasus :
Pembuat
jam tangan terkenal di dunia merek Rolex membuat iklan di the Wall Street
Journal yang memberikan pendidikan kepada konsumennya bagaiamana membedakan
produk Rolex asli dengan Rolex palsu. Dengan melakukan pendidikan kepada
konsumen, maka diharapkan pembelian dan penjualan produk palsu dapat di kurangi
karena kesadaran akan bahaya dan kerugian yang ditimbulkan oleh produk palsu
tersebut terhadap konsumen dan produsen. Strategi ini dipandang sangat mahal,
karena harus di kampanyekan lewat media massa seperti koran atau televisi,
tetapi dalam jangka panjang, perusahaan akan mendapatkan profit yang lebih
baik.
2. Withdrawal Strategy
Perusahaan
pemegang merek asli mengawasi dan memilih secara ketat distributor yang
memasarkan produknya di pasar yang dicurigai produk bajakan sangat banyak
dijual. Produk- produk di bawah merek ‘Hunting World’ hanya dijual pada 80
pengecer di seluruh dunia.
Contoh
kasus :
Penjualan
kaos merek Dagadu Yogyakarta yang hanya membuka outlet penjualan produknya
terbatas, bertujuan untuk memberikan kepastian kepada konsumennya bahwa produk
yang dibeli asli.
3. Prosecution Strategy
Perusahaan pemegang merek asli
melibatkan tim penyidik yang dibentuk oleh perusahaan sendiri untuk melakukan
penyelidikan secara aktif tempat-tempat yang dicurigai sebgai pembuat produk
palsu dari perusahaan tersebut.
Contoh kasus :
Perusahaan yang sudah melakukannya,
misalnya, Rolex dan Christian Dior. Namun, persoalan di lapangan muncul ketika
ada perusahaan yang dicurigai sebagai pembuat produk palsu yang seharusnya
dikenai sangsi hukum tetapi karena penegakan hukum diberbagai Negara berbeda,
menyebabkan sangsi hukum yang seharusnya dikenakan tersebut tidak terjadi, atau
kadang sangsi hukumnya tidak seimbang dengan perbuatan yang dilakukannya.
4. Monitoring Strategy
Perusahaan
pemegang merek asli memandang bahwa distributor adalah pemegang kunci
penyebaran produk palsu dipasar. Karena itu, pendekatan dengan distributor
untuk membangun loyalitas akan lebih efektif dalam menghentikan produk bajakan
di pasar. Distributor di dorong untuk memegang peranan aktif dengan cara
melaporkan setiap temuan yang mencurigakan terhadap kemungkinan produk palsu.
Strategi ini biasanya di ikuti dengan berbagai macam insentif untuk mendorong
keaktifan distributor memerangi pembajakan produk. Banyak produk merek terkenal
yang bersifat ‘luxury’ atau mewah dan mahal memiliki hubungan dengan pengecer
yang memiliki reputasi tinggi dalam hal penjualan produk asli. Dengan
reputasinya ini penjual bahkan berani menanggung denda kerugian kalau produk
yang dijualnya ternyata palsu, sehingga mereka sangat aktif membantu memerangi
produk bajakan karena pada akhirnya akan merugikan mereka (pengecer).
Penyelesaian menurut Saya pribadi :
- Setiap produk, barang atau jasa yang diproduksi harus memiliki identitas yang khas dan sesegera mungkin di patenkan agar sulit untuk diduplikasikan oleh siapapun, dan diusahakan hanya pihak pemilik dan sebagian karyawan yang mengetahui cara membuat identitas itu sendiri.
- Mencamkan pada setiap orang bahwa hukum pembajakan itu berlaku.
Sumber :
https://desysuryanidns.wordpress.com/2016/01/04/memberikan-contoh-tentang-perilaku-bisnis-yang-melanggar-etika/
https://sifafauziah692.wordpress.com/2015/12/07/contoh-kasus-korupsipemalsuan-dan-pembajakan-pada-etika-bisnis/