BAB I
DEFINISI ETIKA BISNIS SEBAGAI PROSES BISNIS
Etika Bisnis ialah
Pengetahuan tentang cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang
memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal serta
implementasi norma dan moralitas untuk menunjang maksud dan tujuan kegiatan
bisnis. Etika berasal dari dari kata Yunani ‘Ethos’
(jamak – ta etha), berarti
adat istiadat.Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun pada suatu masyarakat. Etika sama seperti moral yakni Moralitasberasal dari kata Latin Mos (jamak – Mores) berarti adat istiadat
atau kebiasaan.Pengertian harfiah dari etika dan moralitas, sama-sama berarti
sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia.Etika
sebagai Ilmu menuntut orang untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional.
Menurut
buku yang berjudul “Hukum dan Etika Bisnis” karangan Dr. H. Budi Untung, S.H.,
M.M, Etika dapat
diklasifikasikan menjadi :
1.
Etika Deskriptif
Etika deskriptif yaitu etika di mana objek yang dinilai
adalah sikap dan perilaku manusia dalam mengejar tujuan hidupnya sebagaimana
adanya.Nilai dan pola perilaku manusia sebagaimana adanya ini tercemin pada
situasi dan kondisi yang telah membudaya di masyarakat secara turun-temurun.
2. Etika Normatif
Etika normatif yaitu sikap
dan perilaku manusia atau massyarakat sesuai dengan norma dan moralitas yang
ideal. Etika ini secara umum dinilai memenuhi tuntutan dan perkembangan
dinamika serta kondisi masyarakat.Adanya tuntutan yang menjadi avuan bagi
masyarakat umum atau semua pihak dalam menjalankan kehidupannya.
3. Etika Deontologi
Etika deontologi yaitu etika
yang dilaksanakan dengan dorongan oleh kewajiban untuk berbuat baik terhadap
orang atau pihak lain dari pelaku kehidupan. Bukan hanya dilihat dari akibat
dan tujuan yang ditimbulakan oleh sesuatu kegiatan atau aktivitas, tetapi dari
sesuatu aktivitas yang dilaksanakan karena ingin berbuat kebaikan terhadap
masyarakat atau pihak lain.
4. Etika Teleologi
Etika Teleologi adalah etika
yang diukur dari apa tujuan yang dicapai oleh para pelaku kegiatan. Aktivitas
akan dinilai baik jika bertujuan baik. Artinya sesuatu yang dicapai adalah
sesuatu yang baik dan mempunyai akibat yang baik.Baik ditinjau dari kepentingan
pihak yang terkait, maupun dilihat dari kepentingan semua pihak. Dalam etika
ini dikelompollan menjadi dua macam yaitu :
§ Egoisme
Egoisme yaitu etika yang
baik menurut pelaku saja, sedangkan bagi yang lain mungkin tidak baik.
§ Utilitarianisme
Utilitarianisme adalah etika
yang baik bagi semua pihak, artinya semua pihak baik yang terkait langsung
maupun tidak langsung akan menerima pengaruh yang baik.
5. Etika Relatifisme
Etika relatifisme adalah etika yang
dipergunakan di mana mengandung perbedaan kepentingan antara kelompok pasrial
dan kelompok universal atau global.Etika ini hanya berlaku bagi kelompok
passrial, misalnya etika yang sesuai dengan adat istiadat lokal, regional dan
konvensi, sifat dan lain-lain.Dengan demikian tidak berlaku bagi semua pihak
atau masyarakat yang bersifat global.
Konsepsi
Etika :
·
Pengertian Etika
Etika adalah suatu cabang filsafat yang membicarakan tentang perilaku manusia.
Atau dengan kata lain, cabang filsafat yang mempelajari tentang baik dan buruk.
Untuk menyebut etika, biasanya ditemukan banyak istilah lain : moral, norma dan
etiket. Seperti halnya dengan banyak istilah yang menyangkut konteks ilmiah,
istilah “etika” pun bersal dari Yunani kuno. Kata
Yunani ethos merupakan bentuk
tunggal yang bisa memiliki banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang
rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap dan cara
berpikir. Bentuk jamaknya adalah ta etha yang
berarti: adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi
terbentuknya istilah “etika” dalam filsafat.Dalam sejarahnya,
Aristoteles (384-322 SM) sudah menggunakan istilah ini yang dirujuk kepada
filsafat moral.Istilah lainya yang memiliki konotasi makna dengan etika adalah
moral. Kata moral dalam bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Kata mores ini mempunyai sinonim; mos, moris, manner mores, atau manners, morals. Kata
moral berarti akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin
atau tata tertib hatinurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam
hidup. Kata moral ini dalam bahasa Yunani sama dengan ethos yang menjadi etika.
Secara etimologis, etika adalah ajaran tentang baik buruk, yang diterima umum
tentang sikap, perbuatan, kewajiban dan sebagainya.Pada hakikatnya moral
menunjuk pada ukuran-ukuran yang telah diterima oleh suatu komunitas, sementara
etika umumnya lebih dikaitkan dengan prinsip-prinsip yang dikembangkan di
pelbagai wacana etika.Akhir-akhir ini istilah etika mulai digunakan secara
bergantian dengan filsafat moral sebab dalam banyak hal, filsafat moral juga
mengkaji secara cermat prinsip-prinsip etika.
Teori-teori
etika:
1. Utilitarianisme
Utilitarianisme
menyatakan bahwa suatu tindakan diangap baik bila tindakan ini meningkatkan
derajat manusia.Penekanan dalam utilitarianisme bukan pada memaksimalkan
serajat pribadi, tetapi memaksimalkan derajat masyarakat secara keseluruhan.
Dalam implementasinya sangat tergantung pada pengetahuan kita akan hal mana
yang dapat memberikan kebaikan terbesar. Seringkali, kita tidak mungkin
benar-benar mengetahui konsekuensi tindakan kita sehingga ada resiko bahwa
perkiraan terbaik bisa saja salah.
Analisis
Biaya-Keuntungan (Cost-Benefit Analysis).
Pada
dasarnya, tipe analisis ini hanyalah satu penerapan utilitarianisme.Dalam
analisis biaya-keuntungan, biaya suatu proyek dinilai, demikian juga
keuntungannya. Hanya proyek-proyek yang perbandingan keuntungan terhadap
biayanya paling tinggi saja yang akan diwujudkan. Bila dilihat dari teorinya,
sangatlah mudah untuk menghitung biaya dan keuntungan, namun dalam penerapannya
bukan hanya hal-hal yang bersifat materi saja yang perlu diperhitungkan
melainkan hal-hal lahir juga.
Etika
Kewajiban dan Etika Hak :
Etika kewajiban (duty ethics) menyatakan bahwa ada tugas-tugas yang
harus dilakukan tanpa mempedulikan apakah tindakan ini adalah tindakan terbaik.
Sedangkan,, etika hak (right-ethics) menekankan bahwa kita semua
mempunyai hak moral, dan semua tindakan yang melanggar hak ini tidak dapat
diterima secara etika.
Etika
kewajiban dan etika hak sebenarnya hanyalah dua sisi yang berbeda dari satu
mata uang yang sama. Kedua teori ini mencapai akhir yang sama; individu harus
dihormati, dan tindakan dianggap etis bila tindakan itu mempertahankan rasa
hormat kita kepada orang lain. Kelemahan dari teori ini adalah terlalu bersifat
individu, hak dan kewajiban bersifat individu. Dalam penerapannya sering
terjadi bentrok antara hak seseorang dengan orang lain.
o
Etika Moralitas
Pada dasarnya, etika moralitas berwacana untuk menentukan kita sebaiknya
menjadi orang seperti apa. Dalam etika moralitas, suatu tindakan dianggap benar
jika tindakan itu mendukung perilaku karakter yang buruk (tidak bermoral). Etika moral lebih bersifat pribadi,
namun moral pribadi akan berkaitan erat dengan moral bisnis. Jika perilaku
seseorang dalam kehidupan pribadinya bermoral, maka perilakunya dalam kehidupan
bisnis juga akan bermoral. Dalam memecahkan masalah, kita tidak perlu bingung
untuk memilih teori mana yang sebaiknya digunakan, sebab kita dapat menggunakan
semua teori itu untuk menganalisis suatu masalah dari sudut pandang yang
berbeda dan melihat hasil apa yang diberikan masing-masing teori itu kepada
kita.
Etika =
Pemikiran kritis dan mendasar mengenai ajaran-ajaran moral atau Etika sebagai
Imu tentang moralitas.
Etika bukan
ajaran moral juga bukan tambahan ajaran moral.Etika tidak langsung membuat
manusia menjadi baik.Itu tugas ajaran moral.
Etika
berfungsi sebagai orientasi kritis diperlukan karena kita dihadapkan dengan
pluralisme moral.
1. Etika
Aktifitas Rekayasa meliputi:
· Identifikasi kebutuhan (contoh : sistem perawatan)
· Analisis fungsi tujuan
· Analisis morfologis (penentuan alternatif dalam analisis)
· Penetapan alternative
· Pembuatan prototype
· Uji coba
· Implementasi bahan
Peran
Etika :
Peran etika dibutuhkan dalam kegiatan analisis fungsi sebagai dasar dalam
menganalisa apakah langkah-langkah yang telah diterapkan sesuai dengan aturan
yang terdapat dalam hukum. Peran etika dibutuhkan dalam kegiatan proses
pembangkitan ide atau alternative sebagai dasar dalam konsep pengembangan.
Diman konsep pengembangan alternatif yang diusulkan harus murni dari konsep
pribadi, bukan sebagai kegiatan plagiat.Menentukan alternative sangat
dibutuhkan dalam memilih dari berbagai macam alternatif yang ada.Dengan
demikian kita dapat menentukan arah dari konsep pengembangan fungsi.Dimana
alternative yang dipilih telah memenuhi beberapa persyaratan, misalnya memenuhi
kebutuhan konsumen, tidak merugikan konsumen, tidak memerlukan biaya investasi
peralatan yang mahal, serta dapat meningkatkan keuntungan dari perusahaan, dll.
Dalam hal
ini peran etika sebagai dasar pertimbangan dalam memilih alternatif (missal
produk telah sesuai dengan normal moral dan asusila yang berlaku). Peran etika
dibutuhkan dalam proses membuat prototype sebagai dasar pemikiran dalam
pemilihan bahan baku yang aman bagi konsumen. Misal bahan baku dari melamin,
timbal tidak dipergunakan sebagai bahan baku karena berbahaya bagi konsumen.
BAB II
PRINSIP ETIKA DALAM BISNIS SERTA ETIKA dan
LINGKUNGAN
a) Prinsip Otonomi, Prinsip dimana pelaku bisnis memiliki
kebebasan untuk mengambil keputusan yang dinilainya baik dan dapat
dipertanggungjawabkan.
b) Prinsip Kejujuran, Kejujuran dalam pemenuhan syarat-syarat
perjanjian, transaksi barang dan jasa, dan kejujuran dalam hubungan kerja
intern dalam perusahaan.
c) Prinsip Keadilan, Prinsip
keadilan yang dipergunakan untuk mengukur bisnis menggunakan etika bisnis
adalah keadilan bagi semua pihak yang terkait memberikan kontribusi langsung
atau tidak langsung terhadap keberhasilan bisnis. Para pihak ini terklasifikasi
ke dalam stakeholder. Oleh karena itu, semua pihak ini harus mendapat akses
positif dan sesuai dengan peran yang diberikan oleh masing-masing pihak ini
pada bisnis. Semua pihak harus mendapat akses layak dari bisnis. Tolak ukur
yang dipakai menentukan atau memberikan kelayakan ini sesuai dengan
ukuran-ukuran umum yang telah diterima oleh masyarakat bisnis dan umum. Contoh
prinsip keadilan dalam etika bisnis : dalam alokasi sumber daya ekonomi kepada
semua pemilik faktor ekonomi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan
harga yang layak bagi para konsumen, menyepakati harga yang pantas bagi para
pemasok bahan dan alat produksi, mendapatkan keuntungan yang wajar bagi pemilik
perusahaan dan lain-lain.
1) Ekosentrisme
Merupakan
kelanjutan dari teori etika lingkungan biosentrisme.Oleh karenanya teori ini
sering disamakan begitu saja karena terdapat banyak kesamaan. Yaitu pada
penekanannya atas pendobrakan cara pandang antroposentrisme yang membatasi
keberlakuan etika hanya pada komunitas manusia. Keduanya memperluas keberlakuan
etika untukmencakup komunitas yang lebih luas.
2) Antroposentrisme
Antroposentrisme
adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem
alam semesta.Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam
tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam,
baik secara langsung atau tidak langung.Nilai tertinggi adalah manusia dan
kepentingannya.Hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian.
Segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya akan mendapat nilai dan
perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia. Oleh karenanya alam
pun hanya dilihat sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan
manusia.Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia.Alam tidak mempunyai
nilai pada dirinya sendiri.
3) Biosentrisme
Pada biosentrisme,
konsep etika dibatasi pada komunitas yang hidup (biosentrism), seperti tumbuhan dan hewan.Sedang pada
ekosentrisme, pemakaian etika diperluas untuk mencakup komunitas ekosistem
seluruhnya (ekosentrism).Etika
lingkungan Biosentrisme adalah etika lingkungan yang lebih menekankan kehidupan
sebagai standar moral Sehingga bukan hanya manusia dan binatang saja yang harus
dihargai secara moral tetapi juga tumbuhan. Menurut Paul Taylor, karenanya
tumbuhan dan binatang secara moral dapat dirugikan dan atau diuntungkan dalam
proses perjuangan untuk hidup mereka sendiri, seperti bertumbuh dan
bereproduksi.
Prinsip etika
di lingkungan hidup
Keraf (2005 :
143-159) memberikan minimal ada sembilan prinsip dalam etika lingkungan hidup :
1.
Sikap
hormat terhadap alam atau respect for nature alam mempunyai hak untuk
dihormati, tidak saja karena kehidupan manusia tergantung pada alam, tetapi
terutama karena kenyataan ontologis bahwa manusia adalah bagian integral dari
alam.
2.
Prinsip
tanggung jawab atau moral responsibility for nature prinsip tanggung jawab
bersama ini, setiap orang dituntut dan terpanggil untuk bertanggung jawab
memelihara alam semesta ini sebagai milik bersama dengan cara memiliki yang
tinggi seakan milik pribadinya
3.
Solidaritas
kosmis atau cosmic solidarity solidaritas kosmis mendorong manusia untuk menyelamatkan
lingkungan, untuk menyelamatkan semua kehidupan di alam.
4.
Prinsip
kasih sayang dan kepedulian terhadap alam atau caring for nature
1. Prinsip kasih sayang dan kepedulian
terhadap alam merupakan prinsip moral, yang artinya tanpa mengharapkan balasan
5.
Prinsip
tidak merugikan atau no harm merupakan prinsip tidak merugikan alam secara
tidak perlu,.tidak perlu melakukan tindakan yang merugikan atau mengancam
eksistensi makhluk hidup lainnya.
6.
Prinsip
hidup sederhana dan selaras dengan alam prinsip ini menekankan pada nilai,
kualitas, cara hidup, dan bukan kekayaan, sarana, standart material.
7.
Prinsip
keadilan prinsip keadilan lebih diekankan pada bagaimana manusia harus
berperilaku satu terhadap yang lain dalam keterkaitan dengan alam semesta dan
bagaimana sistem sosial harus diatur.
8.
Prinsip
demokrasi alam semesta sangat beraneka ragam. demokrasi memberi tempas yang
seluas – luasnya bagi perbedaan, keanekaragaman, dan pluralitaas. oleh karena
itu orang yang peduli terhadap lingkungan adalah orang yang demokratis.
9.
Prinsip
integritas moral prinsip ini menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan
perilaku terhormat serta memegang teguh prinsip – prinsip moral yang
mengamankan kepentingan publik.
BAB III
MODEL ETIKA DALAM BISNIS, SUMBER NILAI
ETIKA dan FAKTOR-FAKTOR yang MEMPENGARUHI ETIKA MANAJERIAL
Model Etika Dalam Bisnis
Carroll dan Buchollz (2005) dalam Rudito (2007:49) membagi tiga tingkatan manajemen dilihat dari cara para pelaku bisnis dalam menerapkan etika dalam bisnisnya :
Carroll dan Buchollz (2005) dalam Rudito (2007:49) membagi tiga tingkatan manajemen dilihat dari cara para pelaku bisnis dalam menerapkan etika dalam bisnisnya :
A. Immoral
Manajemen
Immoral
manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan
prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada
umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik
dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas
bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya
memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas
untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau
kelompok mereka.Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang
disebut etika.Bahkan hukum dianggap sebagai batu sandungan dalam menjalankan
bisnisnya.
B. Amoral
Manajemen
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam manajemen adalah
amoral manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer dengan tipe
manajemen seperti ini sebenarnya bukan tidak tahu sama sekali etika atau
moralitas. Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral ini, yaitu Pertama, manajer
yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional
amoral manager). Tipe ini
adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala keputusan
bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberikan
efek pada pihak lain. Oleh karena itu, mereka akan menjalankan bisnisnya tanpa
memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi etika atau belum.
Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka tidak bisa melihat
bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan pihak lain atau
tidak. Tipikal manajer seperti ini biasanya lebih berorientasi hanya pada hukum
yang berlaku, dan menjadikan hukum sebagai pedoman dalam beraktivitas.Kedua,
tipe manajer yang sengaja berbuat amoral.Manajemen dengan pola ini sebenarnya
memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan, namun terkadang secara
sengaja melanggar etika tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis
mereka, misalnya ingin melakukan efisiensi dan lain-lain.Namun manajer tipe ini
terkadang berpandangan bahwa etika hanya berlaku bagi kehidupan pribadi kita,
tidak untuk bisnis.Mereka percaya bahwa aktivitas bisnis berada di luar dari
pertimbangan-pertimbangan etika dan moralitas.Widyahartono (1996:74) mengatakan
prinsip bisnis amoral itu menyatakan “bisnis adalah bisnis dan etika adalah
etika.
C. Moral
Manajemen
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau moralitas dalam
bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen, nilai-nilai etika dan
moralitas diletakkan pada level standar tertinggi dari segala bentuk prilaku
dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe ini hanya menerima
dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa meletakkan
prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya.Seorang manajer yang termasuk dalam
tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya jika bisnis yang
dijalankannya secara legal dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam
komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi hukum yang
berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus mereka
patuhi, sehingga aktifitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk melebihi
dari apa yang disebut sebagai tuntutan hukum. Manajer yang bermoral selalu
melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan, kebenaran, dan
aturan-aturan emas (golden
rule) sebagai pedoman dalam
segala keputusan bisnis yang diambilnya.
Ø Leadership
Satu hal penting dalam penerapan etika bisnis di perusahaan adalah peran
seorang pemimpin/leadership.Pemimpin menjadi pemegang kunci pelaksanaan yang
senantiasa dilihat oleh seluruh karyawan.Di berbagai kondisi, saat krisis
sekalipun, seorang pemimpin haruslah memiliki kinerja emosional & etika
yang tinggi.Pada prakteknya, dibutuhkan kecerdasan intelektual, emosional dan
spiritual dari seorang pemimpin dalam penerapan etika bisnis ini.Kepemimpinan
yang baik dalam bisnis adalah kepemimpinan yang beretika. Etika dalam berbisnis
memberikan batasan akan apa yang yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Pemimpin
sebagai role model dalam penerapan etika bisnis, akan mampu mendorong
karyawannya untuk terus berkembang sekaligus memotivasi agar kapabilitas
karyawan ter-aktualisasi.
Ø Strategi
dan Performasi
Fungsi yang penting dari sebuah manajemen adalah untuk kreatif dalam menghadapi
tingginya tingkat persaingan yang membuat perusahaannya mencapai tujuan
perusahaan terutama dari sisi keuangan tanpa harus menodai aktivitas bisnisnya
berbagai kompromi etika. Sebuah perusahaan yang jelek akan memiliki kesulitan
besar untuk menyelaraskan target yang ingin dicapai perusahaannya dengan
standar-standar etika. Karena keseluruhan strategi perusahaan yang disebut
excellence harus bisa melaksanakan seluruh kebijakan-kebijakan perusahaan guna
mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang jujur.
Ø Karakter Individu
Perjalanan
hidup suatu perusahaan tidak lain adalah karena peran banyak individu dalam
menjalankan fungsi-fungsinya dalam perusahaan tersebut. Perilaku para individu
ini tentu akan sangat mempengaruhi pada tindakan-tindakan mereka ditempat kerja
atau dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Semua kualitas individu nantinya
akan dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yang diperoleh dari luar dan
kemudian menjadi prinsip yang dijalani dalam kehidupannya dalam bentuk
perilaku. Faktor-faktor tersebut yang pertama adalah pengaruh budaya, pengaruh
budaya ini adalah pengaruh nilai-nilai yang dianut dalam keluarganya. Seorang
berasal dari keluarga tentara, mungkin saja dalam keluarganya di didik dengan
disiplin yang kuat, anak anaknya harus beraktivitas sesuai dengan aturan yang
diterapkan orang tuanya yang kedua, perilaku ini akan dipengaruhi oleh
lingkunganya yang diciptakan di tempat kerjanya. Aturan ditempat kerja akan
membimbing individu untuk menjalankan peranannya ditempat kerja.
Ø Budaya
Organisasi
Budaya
organisasi adalah suatu kumpulan nilai-nilai, norma-norma, ritual dan pola
tingkah laku yang menjadi karakteristik suatu organisasi. Setiap budaya
perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong tidak hanya oleh kebijakan-kebijakan
formal perusahaan, tapi juga karena kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang
berkembang dalam organisasi perusahaan tersebut, sehingga kemudian dipercayai
sebagai suatu perilaku, yang bisa ditandai mana perilaku yang pantas dan mana
yang tidak pantas. Budaya-budaya perusahaan inilah yang membantu terbentuknya
nilai dan moral ditempat kerja, juga moral yang dipakai untuk melayani para
stakeholdernya.Aturan-aturan dalam perusahaan dapat dijadikan yang baik.Hal ini
juga sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan.Banyak hal-hal lain yang
bisa kita jadikan contoh bentuk budaya dalam perusahaan.
BAB IV
NORMA dan ETIKA DALAM PEMASARAN, PRODUKSI,
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA FINANSIAL
1. Pasar dan Perlindungan Konsumen
Dengan adanya pasar bebas dan kompetitif, banyak orang meyakini bahwa konsumen
secara otomatis terlindungi dari kerugian sehingga pemerintah dan pelaku bisnis
tidak perlu mengambil langkah-langkah untuk memberikan perlindungan kepada
konsumen. Pasar bebas mendukung alokasi, penggunaan, dan distribusi
barang-barang yang dalam artian tertentu,adil, menghargai hak, dan memiliki
nilai kegunaan maksimum bagi orang-orang yang berpartisipasi dalam pasar,
berdasarkan kenyataan yang tidak dibantahkan bahwa bisnis merasuki seluruh
kehidupan semua manusia, maka dari perspektif etis, bisnis diharapkan bahwa
dituntut untuk menawarkan sesuatu yang berguna bagi manusia dan tidak sekadar
menawarkan sesuatu yang merugikan hanya demi memperoleh keuntungan. Termasuk
didalamnya para pelaku bisnis dilarang untuk menawarkan sesuatu yang dianggap
merugikan manusia.
2. Etika Iklan
Dalam periklanan, etika dan persaingan yang sehat sangat diperlukan untuk
menarik konsumen.Karena dunia periklanan yang sehat sangat berpengaruh terhadap
kondisi ekonomi suatu negara.Sudah saatnya iklan di Indonesia bermoral dan
beretika.Berkurangnya etika dalam beriklan membuat keprihatinan banyak orang.
Tidak adanya etika dalam beriklan akan sangat merugikan bagi masyarakat, selain
itu juga bagi ekonomi suatu negara. Secara tidak sadar iklan yang tidak
beretika akan menghancurkan nama mereka sendiri bahkan negaranya sendiri. Saat
ini banyak kita jumpai iklan-iklan di media cetak dan media elektronik
menyindir dan menjelek-jelekkan produk lain. Memang iklan tersebut menarik,
namun sangat tidak pantas karena merendahkan produk saingannya.Di Indonesia
iklan-iklan yang dibuat seharusnya sesuai dengan kebudayaan kita dan bisa
memberikan pendidikan bagi banyak orang. Banyak sekali iklan yang tidak
beretika dan tidak sepantasnya untuk di iklan kan. Makin tingginya tingkat
persaingan menyebabkan produsen lupa atau bahkan pura-pura lupa bahwa iklan itu
harus beretika.Banyak sekali yang melupakan etika dalam beriklan.Iklan sangat
penting dalam menentukan posisi sebuah produk.
3. Privasi Konsumen
Yaitu
kepercayaan konsumen mengenai kinerja pihak lain dalam suatu lingkungan selama
transaksi atau konsumsi.
4. Multimedia Etika Bisnis
Salah satu cara pemasaran yang efektif adalah melalui multimedia. Bisnis
multimedia berperan penting dalam menyebarkan informasi, karena multimedia is
the using of media variety to fulfill communications goals. Elemen dari
multimedia terdiri dari teks, graph, audio, video, and animation.Bicara
mengenai bisnis multimedia, tidak bisa lepas dari stasiun TV, koran, majalah,
buku, radio,internet provider, event organizer, advertising agency, dll.
Multimedia memegang peranan penting dalam penyebaran informasi produk salah
satunya dapat terlihat dari iklan-iklan yang menjual satu kebiasaan/produk yang
nantinya akan menjadi satu kebiasaan populer. Sebagai saluran komunikasi, media
berperan efektif sebagai pembentuk sirat konsumerisme.
5. Etika Produksi
Dalam proses produksi, subuah produsen
pada hakikatnya tentu akan selalu berusaha untuk menekan biaya produksi dan
berusaha untuk mendapatkan laba sebanyak banyaknya. Dalam upaya produsen untuk
memperoleh keuntungan, pasti mereka akan melakukan banyak hal untuk
memperolehnya. Termasuk mereka bisa melakukan hal hal yang mengancam
keselamataan konsumen.Padahal konsumen dan produsen bekerjasama. Tanpa
konsumen, produsen tidak akan berdaya. Seharunyalah produsen memeberi perhatian
dan menjaga konsumen sebagai tanda terima kasih telah membeli barang atau
menggunakan jasa yang mereka tawarkan.Namun banyak produsen yang tidak
menjalankan hal ini.Produsen lebih mementingkan laba.Seperti banyaknya kasus
kasus yang akhirnya mengancam keselamatan konsumen karena dalam memproduksi,
produsen tidak memperhatikan hal hal buruk yang mungkin terjadi pada konsumen.
6. Pemanfaatan
SDM
Sumber daya manusia (SDM) lebih dimengerti sebagai bagian
integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi.Oleh karena itu, dalam
bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri
dan organisasi. Dalam pemanfaatan sumber daya tersebut maka solusinya adalah
dengan melaksanakan :
§ Program pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja
memiliki keahlian yang sesuai dengan lapangan yang tersedia.
§ Pembukaan investasi-investasi baru.
§ Melakukan program padat karya.
§ Serta memberikan penyuluhan dan informasi yang cepat
mengenai lapangan pekerjaan.
Keberhasilan upaya tersebut
diatas, pada akhirnya diharapkan dapat menciptakan basis dan ketahanan
perekonomian rakyat yang kuat dalam menghadapi persaingan global baik didalam
maupun diluar negeri dan pada gilirannya dapat mempercepat terwujudnya
kemandirian bangsa.
7. Etika
Kerja
Etika kerja adalah sistem nilai atau norma yang digunakan oleh seluruh karyawan
perusahaan, termasuk pimpinannya dalam pelaksanaan kerja sehari-hari.
Perusahaan dengan etika kerja yang baik akan memiliki dan mengamalkan
nilai-nilai, yakni : kejujuran, keterbukaan, loyalitas kepada perusahaan,
konsisten pada keputusan, dedikasi kepada stakeholder, kerja sama yang baik,
disiplin, dan bertanggung jawab.
8. Hak-hak
Pekerja :
a) Hak dasar pekerja mendapat perlindungan atas
tindakan PHK.
b) Hak khusus untuk pekerja perempuan.
c) Hak dasar mogok.
d) Hak untuk membuat PKB (Perjanjian
Kerja Bersama).
e) Hak dasar pekerja atas pembatasan waktu kerja, istirahat, cuti dan libur.
f) Hak pekerja atas perlindungan upah.
g) Hak pekerja untuk jaminan sosial dan K3 (Keselamatan
dan Kesehatan Kerja).
h) Hak pekerja untuk hubungan kerja.
9. Hubungan
Saling Menguntungkan
Prinsip ini menuntut agar
semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan satu sama lain. Dalam dunia
bisnis, prinsip ini menuntut persaingan bisnis haruslah bisa melahirkan suatu
win-win situation.
10. Persepekatan
Penggunaan Dana
Pengelola perusahaan mau
memberikan informasi tentang rencana penggunaan dana sehingga penyandang dana
dapat mempertimbangkan peluang return dan resiko. Rencana penggunaan dana harus
benar-benar transparan, komunikatif dan mudah dipahami. Semua harus diatur atau
ditentukan dalam perjanjian kerja sama penyandang dana dengan alokator dana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar